Terbiasa Menyimpan Emosi
Aku mengenal diriku sebagai orang yang ekspresif. Ntah kenapa semakin dewasa, aku semakin nggak mengenali sisi diriku yg ini. Aku sekarang lebih sering menyimpan emosi daripada meluapkannya. Aku tau harusnya nggak begini, tapi aku nggak bisa. Situasi membuatku berubah. Entah karena mereka nggak siap menghadapi fakta, atau karena aku yg nggak siap menerima feedbacknya.
Aku sampe nggak bisa lagi mendeskripsikan apa sebenarnya yg kurasakan. Cuma bisa menangis. Dan berucap pada Allah : Aku sedih. Otakku terus berputar mencari jawaban. Lebih seringnya, hanya pura-pura dapat jawaban, sekedar untuk melegakan penanya : "kamu kenapa?". Tapi aku sendiri tidak pernah benar-benar tahu apa sebabnya.
Aku terus menekan emosiku jauh ke dalam diri. Aku gatau ini baik atau nggak. Apakah ini bisa disebut sebagai pengendalian diri yang dewasa? Atau hanya akan jadi boomerang nantinya?
Komentar
Posting Komentar