Takut Dijustifikasi

Baru aja nonton salah satu podcast Raditya Dika di channel Suara Berkelas. Dan dia nge spill salah satu cerpennya yang dia gratisin, alih-alih dijual, yang ternyata adalah funelling dia untuk jualan kelas menulisnya. Mampirlah aku ke websitenya, dan kutemukan cerpen itu. Cerpen pertama yang dibuat tahun 2020 dengan judul gerimis. Setelah baca, mindblowing banget ketika baca alur dan penggunaan diksi yang ada di cerpen itu. Sederhana, lucu tapi ngena. Sampe mbatin, kok bisa ya kepikiran sampe ke detail itu. Tentu aja itu jadi salah satu ciri khas tulisan Raditya Dika, ngebanyol tapi sebenernya garing, tapi ya bikin ketawa juga wkwkwk.

Trus kepikiran, kayaknya aku bisa juga deh memulai menulis kayak gini juga. Dari dulu emang seneng nulis, tapi lama nggak diasah. Nulis blog ini aja, baru-baru ini mulai aku getolin lagi.

Aku baru sadar dengan menulis, ini adalah proses kejujuran. Banyak hal-hal yang berputar di otak dan nggak mungkin untuk diluapkan karena situasi dan banyak hal. Nulis lagu juga gitu. Eh jadi keinget Raisa yang ternyata curhat pol-polan di album Ambivert. Siapapun yang denger juga pasti ngerasa, ini bukan sekedar lirik biasa hasil imajinasi, tapi buah dari kesabaran panjang dalam menahan diri. Karena nggak semua hal bisa dikomunikasikan. Atau lebih tepatnya nggak semua masalah bisa sekonyong-konyong selesai begitu saja, hanya sebagai bola liar yang harus dibiasakan terbiasa bergulir, selayaknya matahari terbit dan terbenam. Nggak semua hal bisa dipertanyakan kenapa. Dan nggak semua hal berjalan sesuai keinginan kita. Nggak semua pertanyaan punya jawaban. Jadi keresahan, kegelisahan yang tiada habisnya itu perlu ditumpahkan. Salah satunya dengan menulis, apapun medianya.

Tapi jujur aja, aku masih takut untuk jujur. Takut dijustifikasi. Kayak Raisa, sekarang banyak orang bertanya-tanya, apakah benar lagu-lagu itu adalah suara hati Raisa yang terdalam, perasaan dia sebenarnya? Beruntungnya dalam konteks Raisa, respon pendengar positif. Merasa empati, bahkan mencoba memahami dalam perpektifnya dan mendukung keputusan Raisa. Tapi gimana kalo responnya negatif? Kalo memang bukan curhatan sih bodo amat ya, kita bisa bilang, 'oh ya terserah orang-orang mau menerjemahkan maknanya seperti apa'. Tapi kalo memang beneran curhatan, gimana? Tapi aku yakin sih, walaupun mungkin tidak secara keseluruhan isinya pure curhat sesuai kondisi, tapi paling tidak 80% itu buah dari proses berfikirnya semasa hidup. 

Eh tiba-tiba terlintas novel-novel karya Tere Liye. Nggak beda jauh, dengan Raditya Dika dan Raisa. Tulisannya itu adalah buah dari keresahan, kegelisahan, kekhawatiran yang ia tumpahkan lewat aksara, ceileh aksara, dalam berbagai medium. Jadi, sekarang PR nya, gimana caraku mengatasi ketakutan justifikasi itu. Kalo sama orang lain yang dikenal sih aku nggak peduli, tapi kalo sama orang terdekat, aku nggak bisa tutup kuping dan mata begitu aja. 

Komentar

Postingan Populer