Si Paling Pemaaf
Nggak sengaja nemu postingan ini di threads. Jadi keinget, tulisan blog ku sebelumnya tentang kasih ibu sepanjang masa. Ya, ternyata ada yg mengalami dan juga memahami POV ku soal dinamika kasih sayang antara ibu dan anak. POV itu juga akhirnya baru bisa kupahami ketika aku punya anak, dan ngerasain rasanya dibucinin anak. Gimana mereka sangat bergantung banget sama orang tua, terutama seorang ibu. Selengket itu. 9 bulan bersama tanpa jeda waktu sedikit pun, ya jelas aja punya kedekatan yang bahkan melebihi keintiman suami dan istri. Suami istri aja nggak pernah benar-benar 24 jam bersama. Pasti ada kalanya mereka berpisah walau hanya sekedar pergi ke WC. Sedangkan ibu dan anak 24 jam di tubuh yang sama, selama 9 bulan lamanya, 270 hari, 6.480 jam.
Walaupun di beberapa kasus tetap ada anak yang benar-benar durhaka sama ibunya. Tapi fitrah mereka nggak begitu. Ibu memang mengorbankan jiwanya untuk sang anak. Tapi anak punya hati seluas samudra untuk selalu bisa memaafkan seorang ibu. Ya karena ibu adalah jiwa bagi anaknya.
Memutuskan untuk menjaga jarak dengan ibu itu luar biasa berat. Dilema. Tapi harus dilakukan. Karena banyak pertimbangan yang tentunya sudah dipikirkan matang-matang. Bukan soal benci, tapi untuk menjaga batasan sehat. Terutama sekarang udah punya keluarga kecil. Menjaga perasaan suami yang sering nggak dianggap sama ibu adalah prioritas. Apalagi ketika anak-anak ikut terdampak dengan keegoisan dan ke-NPD-annya itu. Aku dulu boleh terluka, bahkan sampai saat ini masih terus berusaha sembuh, karena rantainya masih belum putus, kasarnya, si pelaku masih hidup. Tapi keluarga ku jangan sampai ikut merasakan sakitnya, kehampaannya, lukanya. Terlebih untuk anak-anakku.
Dan sampai kini pun, saat aku udah dewasa. Aku masih harus berusaha untuk memaafkan. Bukan karena perilakunya yang termaafkan, tapi untuk menyembuhkan lukaku sendiri
Komentar
Posting Komentar