Sensasi Menulis
Setelah era medsos muncul, terutama instagram yang lagi hype dan sekarang tiktok, aku jadi jarang banget nulis di blog. Lebih sering nulis di medsos. Sebenernya tulisanku juga lebih banyak tentang opini pribadi, atau sekedar curhat tapi bukan untuk mencari perhatian, ya sekedar meluapkan isi hati aja, merelease emosi lewat tulisan. Toh, bahasanya juga bukan sumpah serapah, atau caci makian. Tentang bagaimana aku memandang suatu peristiwa yang kualami. Tapi ketika itu aku posting di medsos, niatku dan juga feedback dari pembaca sangat berbeda. Aku jadi haus validasi, ingin diperhatikan, dan banyak insecure karena menunjukkan ketidaksempurnaan dalam kehidupanku. Dan feedback dari pembaca melihatku sebagai si lebay, si oversharing, pembuka privasi, dan menerka-menerka kehidupanku dan bahkan membandingkan kekuranganku dengan kesempurnaan hidupnya. Setidaknya itu yang aku rasakan juga ketika membaca postingan orang lain. Aku jadi ngerasa serba salah memposting tulisan tentang pandanganku terhadap sesuatu, karena aku nggak siap untuk menerima feedbacknya yang mungkin tidak sesuai ekspektasiku
Setelah aku mulai nge-blog lagi. Perasaan bahagia setelah aku bisa menulis unek-unek di otak itu muncul lagi. Potensi overthinking yang berujung pada stress akhirnya mulai teratasi. Aku juga nggak harus memaksa orang lain untuk mendengar ceritaku di sela kesibukan mereka, atau ketika sebenarnya mereka tidak berminat atau merasa terbebani dengan ceritaku. Aku bisa bercerita dan beropini dengan bebas disini. Nggak perlu terlalu peduli tentang bagaimana orang lain berpendapat tentang aku. Aku juga ga perlu tau ketidaksukaan mereka terhadapku
Ah, kenapa aku baru sadar sekarang ya. Kalau sejak lama, mungkin aku bisa lebih cepat untuk sembuh 😆
Komentar
Posting Komentar