Mengulang ingatan luka
Aku harus berulang kali mengulang ulang peristiwa luka yang kualami, bukan untuk mengingatnya sebagai sebuah kenangan manis, tapi justru untuk menemukan akar dari luka tersebut agar aku bisa menyembuhkannya tepat sasaran. Aku tau ada banyak luka, tapi nggak semua luka membuatku hancur dan bahkan trauma. Trauma yang menjadi acuanku dalam berfikir tanpa kusadari. Ini yang membuatku sulit untuk mengambil keputusan yang objektif, karena banyak emosi yang hadir mengerubungi. Pahitnya, emosi itu berasal dari luka. Dan arahnya pasti ke hal negatif. Untuk menjadikannya sebagai cambukan positif, aku tentu harus menemukan akar permasalahannya dulu.
Untuk saat ini, yang aku fahami luka terbesarku ada pada :
Dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh orang terdekatku, ibu, dimana ia harusnya menjadi tempatku paling aman dan nyaman. Dan tak pernah aku terbesit akan ada seorang ibu yang tega melakukan hal itu kepada anaknya. Ternyata itu terjadi padaku
Luka itu membawaku pada mindset untuk sulit lagi mempercayai orang lain. Saat ada pada kondisi yang tidak ideal, otakku otomatis berfikir bahwa aku sedang dimanfaatkan. Alam bawah sadarku mempercayai bahwa kalau seoranh ibu saja, yang katanya paling menyayangi anaknya lebih dari apapun di dunia ini namun malah memanipulasi untuk kepentingan dirinya sendiri, lalu bagaimana dengan orang lain?
Padahal itu hanya asumsi. Faktanya, memang ada orang tua durhaka. Dan nggak semua 'orang lain' itu jahat. Tapi luka lah yang membuatku punya keyakinan pemahaman seperti itu
Akhirnya aku merasa tidak berharga. Orang tidak menerimaku sebagai 'aku', tapi karena 'aku berguna'. Sebenarnya wajar aja orang mau berinteraksi ketika ada maunya. Fatalnya, yang melakukan ini adalah seorang ibu. Orang yang paling dekat dengan anaknya. 9 bulan berada pada satu tubuh yang sama. Berbagi aliran darah yang sama, merasakan denyut jantung yang seirama, berbagi makanan yang sama, juga merasakan emosi yang sama. Tapi sayang nya kini menjadi sumber luka paling dalam.
Komentar
Posting Komentar