Cengeng (Cerita Pendek)
Cengeng
Satu kata yang aku cap buat anak-anak cewek! aku benci mereka! Para cewek-cewek karena mereka cengeng! aku nggak suka mereka yang dengan gampangnya netesin air mata, apalagi buat hal-hal yang seharusnya nggak usah ditangisin. Kayak kakakku Talytha, yang nangis cuma gara-gara nonton FTV. Talytha malah marah-marah sama aku pas aku bilang kalo dia cengeng. Dia malah bilang aku yang terlalu keras, aku nggak punya perasaan, hatiku yang kayak batu. Karena aku nggak nangis kayak dia setelah nonton FTV yang menurut dia mengharukan. Sebenernya apa sih yang mengharukan? Emang dasar cengeng! aku benci apapun alasannya! Bagiku cewek itu cengeng dan mereka itu lemah! Harusnya setelah nangis, mereka selalu siap sedia bawa cermin biar bisa ngeliat wajahnya yang buruk rupa. Liat dong kantung mata kalian tuh membengkak kayak orang abis digebukin.
“Dick..” aku menoleh ke belakang, kudapati sesosok gadis yang sangat kukenali itu masih berdiri mematung. Lagi-lagi Vira. Aku menghela nafas panjang.
“Apa?” kataku cuek.
“Apa aku tetep nggak bisa jadi sesosok yang spesial di hati kamu?”
“Nggak! Aku nggak suka sama kamu dan nggak usah ganggu aku lagi!” aku ngeloyor tanpa memedulikan Vira yang membisu dan gemetar. Aku bisa menebak apa yang sedang ia lakukan sekarang, nangis!
Aku menghentikan motorku tepat di depan sebuah kafe tempat aku biasa nongkrong. Nampaknya aku sudah telat sekitar 10 menit dari janji. Buktinya kedua orang sahabatku sudah menampakkan wajah angker ketika melihatku masuk. Disodorkannya aku dengan pertanyaan-pertanyaan interogasi.
“Dari mana saja kamu?” Ari bertanya padaku dengan tampang dingin.
“Hehe, sorry bro... tadi macet.” Aku menggaruk—garuk kepalaku yang tidak gatal.
“Alasan....” Ari meninju bahuku, sepertinya ia memang sudah tau kebiasaanku yang suka menunda waktu, “....cepat katakan kabar apa yang kamu bawa.”
“Oh tentu. Talytha bilang bahwa sekolahnya mengundang kita untuk tampil dalam acara Talk Show mereka. Hahaha bagaimana?”
Ari dan Yoga saling berpandangan. Setelah itu serentak mengangguk.
“Oke, berarti kita atur jadwal latihan dan kamu Yog, kasih tahu Ares dan Rifhan.”
“Soal Ares sama Rifhan beres deh pokoknya. Pokoknya kita nggak boleh sampe ngecewain.”
“Hahahaha itu udah pastilah.” Jawabku.
“Heh! Jangan sombong dulu kau! Ada yang perlu kamu koreksi dari penampilanmu?” Yoga menambahkan.
“Hah? Apalagi? Vocalku nggak fals kan? Apa suaraku udah mulai serak gara-gara kebanyakan minum es doger?”
“Ngaco! Soal suara udah nggak ada masalah lah. Tapi penghayatannya kurang banget. Kamu tuh lagi nyanyi Dick, harusnya kamu nunjukin dong penghayatan dari lagu yang kamu nyanyiin.”
“Penghayatan? Emang harus gimana?” aku jadi bingung sendiri. Penghayatan emang harusnya kayak gimana sih?
“Ya harusnya kalau pas lagu yang mellow, kamu harus nunjukin ekspresi sedih atau bahkan kalau bisa sampe nangis, ekspresinya jangan disamain kalau kamu pas lagi nyanyi lagu bit dong.”
“Hahaha gila kamu, Yog. Mana bisa si Dicky kamu suruh nangis? Tenang aja tapi dia bisa kok bikin para cewek-cewek nangis histeris kayak si Vira tuh.” Ari tiba-tiba menimpali.
“Hahaha iya juga yaaa... gila kamu Dick! Emang kamu apain sih si Vira sampe nangis histeris kayak orang kesurupan gitu?” Ari dan Yoga sama-sama tertawa. Menertawakan aku? Aku hanya bisa garuk-garuk kepala kebingungan.
“Emang ngapain? Vira nggak aku apa-apain kok sumpah! Aku cuma bilang kalau aku nggak suka sama dia dan aku minta supaya dia nggak usah ngganggu aku lagi. Apanya yang salah sih?”
“Hahaha, hati-hati aja deh Dick, kayak kata orang bilang, ‘cinta ditolak dukunpun bertindak’, hati-hati aja kalau kena pelet hahaha....” Ari tertawa semakin keras.
Aku meninju bahu kirinya. Tapi itu semakin membuat Ari tertawa keras.
Apa aku bilang, cewek itu cengeng! Dan aku benci! Vira nggak ada bedanya sama cewek-cewek lain!!!! Sama-sama cengeng!!!!
Penat rasanya. Talytha tak berhenti mengomel sejak tadi pagi. Tentang apapun dikomentari. Sepertinya dia memang hobi mengomel. Tiada hari tanpa mengomel, itu lah motto hidupnya. Ah aku segera melarikan diri dari rumah. Rasanya sudah sepeti penjara saja. Kunci motor dan dompet sudah ada ditangan. Helm pun sudah kukenakan. Aku sudah siap menyusuri jalanan dengan motorku. Lebih baik begini daripada harus mendengarkan Talytha ‘berkoor ria’.
Aku menuju pantai yang jaraknya tak begitu jauh dari rumahku. Mungkin sekitar 10km. Bayangku pasti indah melihat sunset pada cuaca yang cerah ini. Pantai tidak terlalu ramai. Begitu menyenangkan. Angin sore menerpa tubuhku. Membuat badanku sedikit terhuyung-huyung. Kumasukkan tanganku ke saku celana. Burung-burung mulai terbang untuk pulang ke sarang dengan membentuk sudut lancip. Langit pun mulai menjingga. Meninggalkan bekas oranye nya. Debur ombak cukup keras. Hingga sepercik airnya mengenai tubuhku.
“Hei, kamu juga disini?” Seru seseorang gadis yang membuat lamunanku buyar. Aku menoleh. Kau tahu siapa? Vira lagi. Aku memalingkan wajah.
“Tak kusangka orang sepertimu suka ke tempat-tempat seperti ini”.
“Aku sedang bertengkar dengan kakakku.” Kataku sambil tetap memandang langit senja. Ia mengangguk pelan. Kemudian menjejeri pijakanku.
Kami terdiam cukup lama. Mungkin sedang menikmati sejuknya angin sepoi. Atau memandang indahnya panorama di depan kami, matahari yang hampir terbenam.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”, Ia mulai membuka pembicaraan. Nampaknya ia sangat berhati-hati dengan ucapannya.
“Hm.. silahkan.” Aku tetap memandang matahari yang semakin lama mulai memudar cahayanya.
“Kenapa kamu benci sama cewek?”
“Karena mereka cengeng” jawabku singkat.
Vira tersenyum kecil, “Pantas saja kau tak menyukaiku, aku pun gadis yang cengeng.”
Aku diam. Tak ada yang perlu kubicarakan rasanya. Aku tak ingin membahas antara aku dan dia. Cukuplah begini.
“Kau tau...” Vira berkata lagi “....ketika wanita menangis itu adalah satu senjata terakhir terampuh yang ia punya. Itu tandanya ia sudah tidak bisa lagi menahan beban di hatinya. Fitrah seorang wanita yaitu kami memang lebih lemah daripada kalian para adam. Bukannya kami cengeng, tapi Tuhan telah membentuk hati kami dari daging yang paling lembut agar kami mudah tersentuh. Mata kami mudah menangis dengan sentuhan sedikit saja. Kalian adam diciptakan sebagai makhluk yang kuat dan kami hadir sebagai pelengkap. Aku pun ingin sekali untuk tidak menangis, tapi ini adalah satu-satunya caraku menumpahkan segala perasaanku. Dan sampai sekarang aku pun belum bisa menemukan cara pengganti seperti yang para lelaki lakukan. Yaa untuk menumpahkan segala keegoisan hatiku.” Vira menatap langit begitu dalam. Ia tersenyum, kulihat setetes air matanya mengalir. Aku segera memalingkan wajah ke arah langit. Seperti tatapannya. Kemudian dengan pelan aku memejamkan mata.
Vira, kau tahu, kata-katamu membuatku tertohok. Menyadarkanku atas kebodohan untuk mengartikan dekskripsi yang sebenarnya. Andai kau tahu, kata-kataku adalah dusta. Aku benci wanita karena mereka cengeng. Ya aku memang membencimu ketika kau menangis, karena aku tidak pernah bisa menghapus air matamu yang mengalir. Aku hanya bisa membuatmu semakin tersedu dengan semua lakuku. Atau bahkan pergi meninggalkamu. Menahan sakit betapa rasanya aku ingin menjadi penyejuk bagimu. Namun tangismu justru membuatku terpukul menyadari aku tak pernah sanggup menjadi apa yang kau mau. Sedih melihat kantung matamu yang membengkak setiap habis menangis.
Dan kini aku pun harus malu. Menanggung segala kataku. Ucapanmu seakan menampar hatiku. Betapa pengecutnya aku. Bersembunyi dalam pekat dustaku sendiri. Yang harusnya kau sadari, aku...... aku mulai mencintaimu, gadis cengeng.
-Magelang, 08 Juni 2011-
Komentar
Posting Komentar